MANUSIA DAN CINTA KASIH
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa selalu melimpahkan
rahmat dan Karunia-Nya kepada kita semua sehingga pembuatan makalah ini dapat
berjalan dengan baik dan tak lupa pula kami ucapkan terimah kasih kepada dosen
yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk membuat makalah ini.
Melihat
betapa pentingnya Hakikat Cinta Kasih antara sesama manusia. Karena tanpa cinta
hidup ini terasa hampa dan sunyi. Sehingga dengan hadirnya makalah ini. Di
harapkan kepada pembaca agar dapat mengaplikasikan dalam berbagai bentuk
kehidupan.
Namun
kami sadar bahwa dalam pembuatan makalah ini,masih banyak terdapat
kekurangannya. Oleh karena itu, saran dan kritik dari berbagai pihak ,kami
sambut dengan senang hati demi kesempurnaan makalaha kami selanjutnya.
Jakarta
04-04-2014
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar
Belakang
Cinta,boleh
jadi merupakan suatu istilah yang sulit untuk di batasi secara jelas. Sulit
juga untuk di ingkari bahwa cinta adalah salah satu kebutuhan hidup manusia
yang cukup fundamental. Begitufundamentalnya sampai-sampai membawa Victor Hago.
Seorang pujangga terkenal kepada satu kesimpulan “bahwa mati tanpa cinta sama
halnya dengan mati penuh dosa”.
Secara
sederhanacinta boleh dikatakan sebagai pedoman rasa simpati antara dua mahluk.
Rasa simpati ini tidak hanya berkembang diantara pria dengan pria atau wanita
dengan wanita. Contoh yang mudah di mengerti untuk ini dapat kital ihat pada
hubungan cinta kasih antara seorang ayah dengan anak laki-lakinya,atau antara
ibu dengan anak gadisnya.
B.Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas maka rumusan masalahnya:
Memahami hakikat
cinta kasih,baik antara sesama manusia dengan manusia ,maupun antara manusia
dengan tuhan.
Memahami bentuk
perwujudan cinta kasih yang dituangkan dalam bentuk kehidupan manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
MANUSIA
DAN CINTA KASIH
Dalam
perjalanan hidup manusia, tidak akan pernah lepas dari yang namanya cinta.
Cinta akan selalu ada dalam suatu dimensi yang namanya manusia. Manusia dicipta
dengan penuh cinta, dan tanpa cinta manusia tak akan lahir. Manusia diciptakan
di jagad bumi mengembangan cinta dari tuhan sebagai khalifah di muka bumi. Yang
menjadi pertanyaan besar sekarang ini adalah pemaknaan akan cinta dalam realitas
hidup ini. Apakah cinta dimaknai sebagai sesuatu yang fitrah yang mesti dijaga
ataukah suatu wujud rasa yang mesti diagungkan.
Ketika
memberikan sebuah defenisi akan cinta, akan lahir beberapa defenisi yang tentu
saja akan berbeda dari segi substansi atau hakikat cinta itu. Hal ini
dikarenakan sudut pandang yang berbeda pula. Semakin tinggi tingkat pemahaman
terhadap suatu norma atau prilaku, akan semakin kompleks penjabaran defenisi
itu.
Pemberian
pemaknaan akan cinta akan senasib dengan pemberian defenisi tadi. Defenisi yang
akan mengantarkan pada suatu substansi kadang dikaburkan oleh ego bahkan nafsu
seseorang. Pemaknaan yang salah sebagai sebuah aktualisasi dari cinta seperti
pacaran akan mengantarkan pada suatu upaya untuk mendeskreditkan cinta yang
luhur sebagai fitrah kemanusiaan. Disamping itu, pemaknaan akan cinta dengan
rasa suka harus berani dibedakan. Cinta adalah fitrah yang sifatnya abstrak
sehingga perwujudannya berada dalam area metafisik (inmaterial). Sedangkan rasa
suka, adalah wujud rasa ketertarikan kepada hal yang bersifat materi.
A.Pengertian
Cinta Kasih
Pendefenisian
dalam perspektif terminology (bahasa), cinta kasih dapat diuaraikan Cinta kasih
adalah kata majemuk yang telah merupakan ungkapan tetap yang berupa paduan
antara kata sifat yang terdiri dari kata “cinta” dan “kasih”. Cinta akan
diartikan sebagai rasa rindu, ingin, sangat suka, sangat saying, sangat kasih
dan tertarik hatinya. Sedangkan kasih diartikan sebagai perasaan sayang, cinta,
atau suka kepada seseorang.
Dari
kata cinta kasih ini, lahir pula beberapa padanan kata yang hampir semakna.
Sebut misalnya, “kasih sayang”, “belas kasihan”, “kemesraan” dan “pemujaan”.
Cinta kasih merupakan inti dari keberadaan manusia ( the core of existence ).
Dalam konteks lain, cinta kasih mengandung makna yang lain, seperti “jatuh
cinta”, “dilamun asmara”, “cinta orang tua kepada anak atau sebaliknya”, “cinta
pada alam dan seni”, “cinta kepada negara”, “cinta sesama manusia” dan yang
lebih tinggi “cinta kepada Allah Swt.”.
Semua
istilah tersebut di atas tidak sama, akan tetapi merupakan variasi-variasi dari
sekian banyak istilah. Istilah-istilah ini merupakan padanan yang sangat
memiliki arti yang mengarah pada satu pemaknaan yang utuh. Sehingga melahirkan
tingkatan-tingkatan cinta. Realitas yang tersaji sekarang dihadapan kita
(kondisi internal dan eksternal masing-masing individu) sangat memungkinkan
memberikan tingkatan pada cinta itu. Sehingga lahir ‘cinta kasih yang rendah’,
‘cintah kasih yang menengah’, dan ‘cinta kasih yang tinggi dan luhur’.
Tingkatan
cinta ini bisa saja lahir karena factor pemahaman atau tingkat intelegensi
seseorang atau bahkan tingkat keimanan dan ketakwaan seseorang. Manusia dalam
hal ini insan pecinta, tidak selamanya akan berada dalam tingkatan cinta tersebut.
Cinta kasih yang rendah yang hanya sekedar menganggap cinta adalah sebuah rasa
yang mesti diekspresikan seketika yang tanpa control dan nilai (absurd).
Pecinta seperti ini cenderung melakukan aktivitas yang menamakan cinta namun
bukan sebenarnya cinta. Tidak diperlukan control dalam penjabarannya bahkan
cinta yang dimaksudkan memiliki nilai tapi seyogyanya tidak ada nilai kecuali
ego dan nafsu semata yang bermain di dalamnya.
Cinta
menengah lahir dikarenakan adanya paradigma bahwa cinta memiliki nilai namun
tidak ada control maupun norma yang mengatur aplikasi. Pecinta seperti ini
cenderung apatis bahkan boleh dikatakan manusia pragmatis. Nilai dimaknai
sekedar pemenuhan hasrat dan rasa. Cinta ini tak bisa lagi dibedakan dengan
nafsu. Pecinta ini melahirkan prilaku pacaran, dan sejenisnya. Penilaian akan
cinta hanya sekedar sebagai rasa yang mesti diwujudkan. Kalaupun ada control
yang bermain, disana hanya berupa rasionalisasi (hasil pemikiran) yang
mengedapankan ego (egosentris ; tak semestinya juga ego diabaikan). Norma yang
dianggap sebagai control hanya norma masyarakat. Selama tidak ada yang diganggu
dan dirugikan, dan tak melewati batas kemanusiaan akan tetap dijalaninya.
Penggambaran
akan aktualisasi cinta seperti di atas sudah sangat jauh dari fungsi dan peran
manusia sebagai abdi sekaligus khalifah di muka bumi. Cinta rendah tak ubahnya
seperti binatang (tidak adanya peran akal yang bermain dalam tataran prilaku),
sedangkan pecinta tipe kedua memeliki pribadi ganda (split personality). Lalu
bagaimana aktualisasi cinta yang sebenarnya yang luhur dan memiliki derajat
yang tinggi? Kita akan uraikan pada penjabaran selanjutnya.
Dalam
perspektif peradaban Yunani, cinta dibagi dalam tiga jenis. Ketiga jenis itu
adalah ; Cinta Egape, ialah cinta manusia kepada Tuhan yang diwujudkan dengan
komunukasi ritual (vertical/horizontal).
Cinta
Philia, ialah cinta kepada ayah-ibu (orang tua), keluarga, saudara, sahabat,
dan sesama manusia.
Cinta
Eros / Amos, ialah cinta antara pria dan wanita (suami dan istri).Cinta kasih
tidak hanya sekedar cinta belaka, akan tetapi cinta kasih itu timbul dari lubuk
hati manusia yang sifatnya kekal dan tak akan pernah berubah. Dengan cinta
kasih ini, manusia akan selalu berbahagia dan menderita di dalam hidupnya.
Cinta sebagai keperluan fundemantal memang tidak mudah diterangkan atau
didefenisikan.
Mengacu
pada perspektif sekarang, yaitu dalam hubungan cinta kasih yang timbul antara
dua jenis manusia yang berbeda kelamin dapat dibedakan dalam empat macam
pertumbuhan cinta, yaitu : Cinta kasih karena kebiasaan :Adalah cinta yang
diperoleh berdasarkan tradisi masyarakat yang dibiasakan, seperti menikahkan
anak-anak yang sebelumnya tidak saling kenal dan cinta tumbuh karena ikatan
sudah ada.
Cinta
kasih karena penglihatan :Adalah cinta yang tumbuh karena penglihatan, seperti
kata pepatah : "Darimana datangnya linta,Dari sawah turun ke kali,Darimana
datangnya cinta, Dari mata turun ke hati".Manusia sebagai makhluk social
mempunyai kodrat terbaik pada suatu obyek yang dipandang indah, cantik,
menarik, dan lain-lain.
Cinta
kasih karena kepercayaan : Adalah cinta kasih yang lahir dari kepercayaan atau
keyakinan. Hubungan untuk memadu cinta kasih biasanya diperlukan waktu yang
cukup lama untuk saling menyelidiki karakter, dan saling memupuk cinta kasih. Cinta
kasih karena angan-angan : Adalah cinta yang lahir dari pengaruh angan-angan
atau khayal saja, cinta yang penuh fantasi.
Menurut
teori, cinta adalah sikap dasar untuk memperhatikan kepuasan dan ketentraman
serta perkembangan orang yang kita cintai. Prakteknya, cinta berarti bersedia
melepas kesenangan, mengabadikan waktu, bahkan mengorbankan ketentraman kita
demi peningkatan kepuasan, ketentraman, dan perkembangan orang lain. Namun,
menerangkan anatomi cinta sangat sulit.
B.Hakikat
Cinta Kasih
Sampai
sekarang ini masih banyak orang yang beranggapan bahwa cinta itu tidak lebih
dari sekedar perasaan menyenangkan yang untuk mengalaminya orang harus terjatuh
kedalamnya. Sikap semalam ini pada hakikatnya berdasarkan pendapat –pendapat
berikut: Pendapat pertama, banyak orang melihat masalah cinta ini pertama-tama
sebagai masalah dicintai dan bukan masalah mencintai,yaitu masalah kemampuan
orang untuk mencintai. Dan untuk mengejar tujuan ini umumnya orang menempuh
beberapa jalan.
Pendapat
kedua, dibelakang sikap bahwa tidak ada yang harus dipelajari dalam hal
cinta,adalah satu dugaan bahwa masalah cinta adalah masalah objek,dan bukan
masalah bakat. Dengan semacam ini mendorong orang untuk selalu berfikir,bahwa
mencintai orang lain iti adalah soal yang sederhana, akan tetapi yang sulit
justru mencari objek yang tepat untuk mencintai atau untuk dicintai.
Pendapat
ketiga, yang mengarah pada dugaan bahwa tidak ada yang dipelajari dalam hal
cinta ini,terletak dalam pencampur adukan antara pengalaman mulai pertama jatuh
cinta dan kedaan tetap berada dalam cinta. Jika dua orang yang dahulunya
merupakan orang asing tiba-tiba meruntuhkan tembok diantara mereka dan mereka
merasa dekat atau merasa satu maka momen kesatuan inilah salah satu dari
pengalaman yang paling menyenangkan dan menggembirakan dalam kehidupannya.
Berangkat
dari ketidakpuasan terhadap ketiga pendapat tersebut diatas, kendatipun diakui
telah banyak dianut oleh berbagai kalangan, Frich Fromm mengajukan premis yang
sama sekali berbeda dengan cinta dianggapnya teorotik terlebih dahulu sebelum
kita menguasai prakteknya .Berkat perpaduan antara kemampuan teoritik dan
praktis seni bisa dikuasai berkat intusi dan hakikat penguasaan.
C.Cintah
Kasih Dalam Berbagai Dimensi
Dari
pembahasan diatas dapat kita tarik suatu pengertian bahwa cinta boleh dibilang
telah merupakan bagian hidup manusia. Dan kasih sayang adalah sesuatu yang
indah, suci dan didambakan oleh setiap orang. Sebagaimana cinta, kasih sayang
tidak akan lahir tanpa orang yang melahirkannya. Dengan kata lain seseorang
tidak akan memperoleh kasih sayang apabila tidak ada orang lain yang memberi.
Secara demikian wajar kalau kita mengenal berbagai bentuk kasih sayang, yang
ini semua sangat tergantung kepada kondisi penyayang dan yang disayangi. Dengan
bertitik tolak kepada kasushubungan antara orang tua dengan anaknya, tidak bisa
membedakan berbagai bentuk kasih sayang berikut ini :
Pertama,suatu
bentuk kasih sayang dimana bentuk orang tua bersifat aktif sementara si anak
bersifat pasif. Dalam hubungan orang tua memberikan kasih sayang yang
berlebihan terhadap anaknya,baik berupa moral ataupun material sementara si
anak menerima saja mengiyakan betapa sedikitpun berusaha memberikan respon.
Akibatnya anak akan menjadi takut ,kurang berani menyatakan pendapat, minder
atau dengan kata lain cenderung membentuk sosok anak yang tidak mampu berdiri
dalam masyarakatnya.
Kedua,suatu
bentuk kasih sayang dimana orang tua bersifat pasif sementara si anak bersifat
aktif. Dalam bentuk si anak mencurahkan kasih sayang kepada orang tuanya secara
berlebihan. Kasih sayang ini diberikan secara sepihak. Orang tua cenderung
mendiamkan tingkah laku anaknya dan tidak memberikan respon terhadap apapun
yang diperbuat si anak.
Ketiga,
suatu bentuk kasih sayang dimana orang tua bersikap pasif sementara si anak
juga bersifat fasif. Dalam bentuk ini jelas masing-masing pihak membawa cara
hidup dan tingkah lakunya tanpa saling memperhatikan satu sama lain, suasana
keluarga terasa dingin tidak ada tegur sapa dan yang jelas tiada kasih sayang. Sedang
bentuk yang keempat, adalah suatu bentuk kasih sayang dimana orang tua bersifat
aktif. Dalam bentuk ini orang tua dan anak saling memberikan kasih sayang
secara berlebihan sehingga hubungan antara orang tua dan anak terasa intim dan
mesra,saling mencinta,saling menghargai dan yang lebih jelasnya saling
membutuhkan.
D.Kasih
Sayang
Menurut
Mery Lutyens, bahwa kasih saying adalah factual, bukan sentimental yang
mengandung emosional yang dapat ditangisi kepergiannya maupun kedatangannya.
Memiliki kasih sayang berarti memiliki simpatik, ia bebas dari rasa takut,
paksaan dan kewibawaan serta tindakan akal budi pada diri sendiri. Dalam kasih
saying, sadar atau tidak sadar dari masing-masing pihak dituntut “tanggung
jawab”, “pengorbanan”, “kejujuran”, “pengertian”, dan “keterbukaan” sehingga
keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh.
Menurut
kamus umum Bahasa Indonesia karangan W.J.S. Purwodarminto. Kasih sayang
diartikan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka pada seseorang.
Ada
berbagai bentuk kash sayang, bentuk itu sesuai dengan kondisi penyayang dan
yang disayangi dalam kehidupan berumah tangga kasih sayang merupakan kunci
kebahagiaan. Kasih sayang ini merupakan pertumbuhan dari cinta. Percintaan
muda-mudi (pria-wanita) bila diakhiri dengan perkawinan maka didalam rumah
tangga,keluarga muda itu bukan lagi bercinta-cinta,tetapi sudah bersifat kasih
mengasihi atau saling menumpahkan kasih sayang.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Cinta
memang sesuatu yang indah dan mulia, hanya ukuran dan nilai cinta berbeda beda.
Cinta, khususnya antara dua pasang kekasih, terutama bila terjadi diantara dua
remaja, kaum muda, maka seolah seolah dunia ini hanya mereka berdualah yang ada
dan yang memilikinya.
Indah,
mulia tetapi juga sering berakhir tragis seperti dikisahkan dalam cerita
legendaris dari dramawan dan sastrawan Inggris William Shakespeare melalui ~
Romeo and Juliet ~ atau Sampek & Ingtay cerita cinta kuno dari Tiongkok,
Siti Nurbaya oleh Marah Roesli dari Indonesia. Masih banyak lagi tentunya
cerita sejenis. Cinta yang menurut alur pikiran penulisnya, pencetus kisah
romantis dan melankolis ini dibumbui dengan liku liku percintaan yang mempunyai
ikatan kuat dan murni, sebuah cinta sejati.
Semua
ini untuk menguras airmata pembacanya. Selalu indah penuh pengorbaan dan
mengharukan. Ini hanya sebuah kisah khayalan yang didramatisir. Masih adakah
cinta seperti itu pada kenyataan, khususnya jaman sekarang ? Dunia yang makin
maju kedepan dengan loncatan loncatan yang kadang mencengangkan dalam segala
bidang, terutama `arti kebebasan` yang justru sering digunakan sebagai pintu
gerbang untuk melewati batas batas yang seharusnya tetap dijaga dan tidak
dilanggar.
Ladang
dan kesempatan untuk melakukan hubungan cinta atau bercinta tersedia dan
terbuka luas dan bebas, hampir tanpa batas dibanding jaman ketika cerita
romantis yang penuh keindahan cinta itu ditulis. Sebebas terjadinya
penyimpangan penyimpangan yang pada umumnya berakhir penuh derita dan penderitaan,
bahkan malapetaka. Tidak sedikit menghantui sepanjang sisa hidup.
Cinta
itu mulia. Cinta bisa sangat indah. Cinta itu adalah kebahagiaan, tetapi,
manakala cinta itu tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan, apa yang
diperkirakan, apa yang didambakan dan diharapkan dan bahkan jauh dari bayang
bayang keindahan, betolak belakang dari kenyataan dan indahnya cinta yang sudah
terlanjur tercipta dalam bayang bayang dan angan angan dua sejoli, maka cinta
bisa sangat menyakitkan dan menimbulkan penderitaan yang luar biasa. Salah satu
atau kedua duanya yang terlibat didalamnya, bahkan pancaran baik buruknya,
kebahagiaan dan kegagalan serta kesedihan yang berlanjut dengan penderitaan
sering sanggup menyentuh dan dirasakan orang disekitarnya.
DAFTAR
PUSTAKA
·
Seri
Diktat Kuliah MKDU: Ilmu Budaya Dasar karya Widyo Nugroho dan Achmad Muchji,
Universitas Gunadarma
·
Dalam
buku Ilmu Budaya Dasar, karya Yulia Budiwati
·
Dalam
buku Ilmu Budaya Dasar, penerbit Gramedia


0 komentar:
Posting Komentar