MANUSIA
DAN PANDANGAN HIDUP
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan
rahmat, taufik serta hidayahnya. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Manusia dan Pandangan Hidup”. Pembuatan makalah ini disusun untuk
menambah pengetahuan mahasiswa dan mahasiswi dalam menerima mata kuliah “Ilmu
Budaya Dasar” dan bagaimana cara mempelajari materi lebih dalam.
Melihat
betapa pentingnya pandangan hidup antara sesama manusia. Karena tanpa pandangan
hidup ini terasa hampa dan sunyi. Sehingga dengan hadirnya makalah ini. Di
harapkan kepada pembaca agar dapat mengaplikasikan dalam berbagai bentuk
kehidupan..
Kami yakin dalam pembuatan makalah
ini masih banyak kekurangan oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat
membangun dari semua pihak sangat kami butuhkan. Semoga makalah ini sebagai
sarana penunjang proses belajar mengajar.
Jakarta, 09 April 2014
Penyusun
BAB
1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia
adalah makhluk hidup ciptaan Tuhan yang paling tinggi derajatnya. Dikarenakan
manusia memiliki akal, pikiran dan rasa. Ketika kekayaan manusia inilah yang
membuat manusia disebut sebagai khalifah di bumi ini. Tuntukan hidup manusia
lebih dari pada tuntutan hidup makhluk lainnya yang membuat manusia berfikir
lebih maju untuk memenuhi kebutuhan atau hajat hidupnya di dunia, baik yang
bersifat jasmani maupun rohani. Dari proses ini maka lahirlah apa yang disebut
kebudayaan dan pandangan terhadap hidup.
Setiap
manusia memiliki pandangan hidup yang berbeda-beda mengelompokkan pandangan
hidup yang berdeda-beda akan menciptakan paham atau aliran. Pandangan hidup
tidak terlepas dari masalah nilai dalam kehidupan manusia. Jadi pandangan
terhadap hidup ini adalah segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi
manusia. Pandangan hidup dapat menjadi pegangan, bimbingan dan tuntutan
seseorang ataupun masyarakat dalam menempuh kehidupan. Oleh karena itu, dalam
kehidupan dunia dan akhirat pandangan hidup seseoranglah yang menentukan akhir hidup
mereka sendiri. Selain itu pandangan hidup juga tidak langsung muncul dalam
masyarakat, melainkan melalui berbagai proses dalam menemukan jati diri atau
pandangan hidupnya. Mulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa.
Dalam
penemuan pandangan hidup tersebut, tidak lepas juga dengan pendidikan. Manusia
mengetahui tentang hakikat hidup dan sebagainya adalah berasal dari
pendidikan.Oleh karena itu jika kita membahas tentang pendangan hidup, tidak
boleh lepas dari pendidikan manusia dapat berfikir ledih kedepan mulai dari
kehidupan baik lahir dan batin.
B. Rumusan masalah
1. Bagaimana pengertian pandangan hidup?
2. Bagaimana hubungan pandangan hidup dengan
kehidupan manusia?
C. Tujuan masalah
1. Mendeskripsikan pengertian pandangan
hidup.
2. Mendeskripsikan hubungan pandangan hidup
dengan kehidupan manusia.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Cita-cita
Cita-cita
adalah keinginan, harapan, tujuan yang selalu ada dalam pikiran. Pandangan
hidup terdiri atas cita-cita, kebajikan, dan sikap hidup. Dalam kehidupannya
manusia tidak dapat melepaskan diri dari cita-cita, kebajikan, dan sikap hidup
itu. Tidak ada orang hidup tanpa cita-cita, tanpa berbuat kebajikan, dan tanpa
sikap hidup. Sudah tentu kadar atau tingkat cita-cita, kebijakan dan sikap hidup
itu berbeda-beda bergantung kepada pendidikan, pergaulan, dan lingkungan
masing-masing.Itulah sebabnya, cita-cita, kebajikan, dan sikap hidup banyak
menimbulkan daya kreativitas manusia. Banyak hasil seni yang melukiskan
cita-cita, kebajikan, dan hidup seseorang. Cita-cita ini perasaan hati yang
merupakan suatu keinginan, kemauan, niat, atau harapan. Cita-cita itu penting
bagi manusia, karena adanya cita-cita menandakan kedinamikan manusia.Ada tiga
katagori keadaan hati seseorang, keras, lunak, dan lemah. Orang yang berhati
keras, tak berhenti berusaha sebelum cita-citanya tercapai. Ia tak menghiraukan
rintangan, tantangan, dan segala kesulitan yang dihadapinya. Orang yang berhati
lunak dalam usaha mencapai cita-citanya menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi.
Orang yang berhati lemah, mudah terpengaruhi oleh situasi dan kondisi.
Cita-cita, keinginan, harapan, banyak menimbulkan daya kreatifitas para
seniman. Banyak hasil seni seperti: drama, novel, film, musik, tari, filsafat
yang lahir dari kandungan cita-cita, keinginan, harapan dan tujuan.
B. Kebajikan
Kebajikan
atau kebaikan atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakikatnya sama
dengan perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan norma-norma agama atau
etika. Manusia adalah seorang pribadi yang utuh yang terdiri atas jiwa dan
badan. Manusia merupakan makhluk sosial: manusia hidup bermasyarakat, manusia
saling membutuhkan, saling menolong, saling menghargai sesama anggota
masyarakat. Sebaliknya pula saling mencurigai, saling membenci, saling
merugikan, dan sebagainya.Untuk melihat apa itu kebajikan, kita harus melihat
dari tiga segi, yaitu: manusia sebagai pribadi, manusia sebagai anggota
masyarakat, dan manusia sebagai makhluk Tuhan.Manusia sebagai pribadi dapat
menentukan baik dan buruk. Yang menentukan baik dan buruk itu suara hati. Suara
hati itu semacam bisikan dalam hati untuk menimbang perbuatan baik atau tidak.
Jadi suara hati itu merupakan hakim terhadap diri sendiri. Suara hati
masyarakat, yang menentukan baik dan buruk adalah suara hati masyarakat. Suara
hati manusia adalah baik, tetapi belum tentu suara hati masyarakat menganggap
baik. Demikian pula manusia sebagai makhluk Tuhan, manusia pun harus mendengar
suara hati Tuhan. Tuhan selalu membisikkan agar manusia berbuat baik dan mengelak
perbuatan yang tidak baik. Jadi kebajikan itu adalah perbuatan yang selaras
dengan suara hati kita, suara hati masyarakat dan hukum Tuhan. Kebajikan
berarti berkata sopan, santun, barbahasa baik, bertingkah laku baik, ramah
tamah terhadap siapapun, berpakaian sopan agar tidak merangsang bagi yang
melihatnya. Namun ada pula kebajikan semu, yaitu kejahatan yang berselubung
kebajikan.
C. Sikap Hidup
Sikap
hidup adalah keadaan hati dalam menghadapi hidup. Dalm menghadapi kehidupan,
yang berarti manusia menghadapi manusia lain atau menghadapi kelompok manusia,
ada beberapa sikap etis dan sikap nonetis. Sikap etis disebut juga sikap
positif sedangkan sikap nonetis disebut juga sikap negatif. Ada tujuh sikap
etis, yaitu : sikap lincah, sikap tenang, sikap halus, sikap berani, sikap
arif, sikap rendah hati, dan sikap bangga. Sedangkan sikap nonetisada 6 yaitu :
sikap kaku, sikap gugup, sikap kasar, sikap takut, sikap angkuh, sikap rendah
diri. Sikap-sikap positif bagi bangsa Indonesia. Sikap-sikap itu antara lain :
sikap suka bekerja keras, sikap gotong royong, menjaga hak dan kewajiban, sikap
tolong menolong, dan sikap mengargai pendapat orang lain. kebajikan secara
nyata dan dapat dirasakan melalui tingkah lakunya. Dan, dalam hal ini, tingkah
laku manusia sebagai perwujudan kebajikan inilah yang akan dikemukakan karena
wujudnya dapat dilihat dan dirasakan. Karena tingkah laku bersumber pada
pandangan hidup, maka setiap orang memiliki tingkah laku sendiri-sendiri yang
berbeda dari orang lain dan tergantung dari pembawaan, lingkungan, dan
pengalaman. Dalam setiap perbuatan, manusia harus memahami etika yang berlaku
dalam masyarakat. Sehingga kehidupan dalam memasyarakat menjadi tenang dan
tentram.
Namun
demikian dibalik keragaman pendapat tersebut tampaknya ada satu benang merah
yang dipersamakan, yaitu adanya kesepakatan bahwa manifestasi sikap tidak dapat dilihat secara langsung akan tetapi
harus ditafsirkan terlebih dahulu sebagai tingkah laku yang masih tertutup.
Sikap manusia bukanlah suatu konstruk yang berdiri sendiri, akan tetapi paling
tidak ia mempunyai hubungan yang sangat erat dengan konstruk-konstruk lain,
seperti dorongan, motivasi, atau bahkan dengan nilai-nilai tertentu.
Motivasi
adalah kesiapan yang ditujukan pada sasaran dan dipelajari untuk tingkah laku
bermotivasi. Sikap adalah kesiapan secara umum untuk suatu tingkah laku
bermotivasi, sedang nilai-nilai sasarn adalah sasaran atau tujuan yang bernilai
terhadap mana berbagai pola sikap dapat diorganisir.
Dalam buku Strategi Kebudayaan, Van
Peursen melihat adanya tiga periode peralihan mencolok yang dialami manusia
pada umumnya. Ketiga periode itu adalah tahap mistis, tahap ontologi, dan tahap
fungsional. Tahap mistis merupakansikap manusia yang merasa dirinya terkepung
oleh kekuatan-kekuatan gaib disekitarnya. Tahap ontologi adalah sikap manusia
yang tidak hidup lagi dalam kepungan. Sedangkan tahap fungsional merupakansikap
dan alam pikiran yang semakin nampak dalam diri manusia modern.
Sedangkan menurut Frans Magnis
Suseno melihat adanya dua bahaya yang menjadi kendala dalam kehidupan manusia
dalam mempertahankan sikap hidup yang tepat itu, bahaya tersebut adalah nafsu
dan pamrih. Nafsu merupakan perasaan-perasaan kasar yang bisa menggagalkan
kontrol diri manusia dan sekaligus membelenggunya secara buta pada dunia lahir.
Sedangkan pamrih adalah tindakan yang semata-mata mengusahakan kepentingannya
sendiri tanpa memperdulikan kepentingan orang lain.
Dalam bukunya Falsafah Hidup
Pancasila sebagaimana tercermin dalam Falsafah Hidup Orang Jawa, Soetrisno
melihat adanya tiga nafsu yang begitu menonjolkan aspek pamrih, antara lain:
selalu ingin menang sendiri, selalu ingin benar sendiri, dan hanya mementingkan
kebutuhan sendiri.
Selain itu, menurut J.C.Tukiman
Taruna dalm harian Kompas 8 Januari 1984, ia menawarkan 6 sikap mental yaitu:
1. Manusia Jawa itu semakin manja. Dasar yang
dipakai adalah kenyataan dalam kehidupan orang Jawa yang lebih suka dilayani
daripada melayani.
2. Manusia Jawa cenderung boros, hal ini
terbukti adanya dorongan yang kuat dalam diri orang jawaberupa sikap suka
menikmati. Manusia Jawa adalah kelompok penikmat dan itu berarti ingin
menikmati yang serba baru dan baik.
3. Adanya sikap semakin religius. Semangat
religius menurun dan cenderung menjadikan rumah ibadah sebagaipusat kehidupan
sosial.
4. Manusia Jawa itu pendendam. Apabila
menyangkut harga diri manusia Jawa tidak mengenal pengampunan dan tidak bisa
memaafkan.
5. Manusia Jawa mudah terpengaruh.
6. Manusia Jawa bukan pionir. Hal ini terbukti
orang Jawa lebih suka menunggu lowongan pekerjaan daripada menciptakan lapangan
pekerjaan.
D. Manusia Dan Pandangan Hidup
Akal dan
budi sebagai milik manusia ternyata membawa ciri tersendiri akan diri manusia
tersebut. Sebab akal dan budi mengakibatkan manusia memiliki keunggulan
dibandingkan makhluk lain. Satu diantara keunggulan manusia tersebut ialah
pandangan hidup. Disatu pihak manusia menyadari bahwa dirinya lemah, dipihak
lain manusia menyadari kehidupannya lebih kompleks.
Pandangan
hidup merupakan masalah yang asasi bagi manusia. Sayangnya tidak semua manusia
menyadari, sehingga banyak orang yang memeluk sesuatu agama semata-mata atau
dasar keturunan. Pandangan hidup penting
bagi kehidupan manusia dimasa sekarang maupun kehidupan di akhirat, dan sudah
sepantasnya setiap manusia memilikinya.
Perlu
kita sadari bahwa baik Tuhan maupun agama bagi kita adalah suatu kebutuhan.
Buka kebutuhan sesaat melainkan kebutuhan yang terus menerus dan abadi. Sebab
setiap saat kita memerlukan perlindungan Tuhan dan petunjuk agama sampai di
akhir nanti.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pandangan
hidup merupakan bagaimana manusia memandang kehidupannya. Setiap orang memiliki
pandangan hidup yang berdeda-beda dan melahirkan suatu paham. Wujud pandangan
hidup manusia berkaitan dengan cita-cita, kebajikan, dan sikap hidup. Cita-cita
merupakan pandangan hidup di masa yang akan datang. kebajikan secara nyata dan
dapat dirasakan melalui tingkah lakunya. Dan, dalam hal ini, tingkah laku
manusia sebagai perwujudan kebajikan inilah yang akan dikemukakan karena
wujudnya dapat dilihat dan dirasakan. Karena tingkah laku bersumber pada
pandangan hidup, maka setiap orang memiliki tingkah laku sendiri-sendiri yang
berbeda dari orang lain dan tergantung dari pembawaan, lingkungan, dan
pengalaman. Dalam setiap perbuatan, manusia harus memahami etika yang berlaku
dalam masyarakat. Sehingga kehidupan dalam memasyarakat menjadi tenang dan
tentram.
DAFTAR
PUSTAKA
·
Seri
Diktat Kuliah MKDU: Ilmu Budaya Dasar karya Widyo Nugroho dan Achmad Muchji,
Universitas Gunadarma
·
Dalam
buku Ilmu Budaya Dasar, karya Yulia Budiwati
·
Dalam
buku Ilmu Budaya Dasar, penerbit Gramedia
·
http://id.wikipedia.org/wiki/\manusia
·
http://id.wikipedia.org/wiki/pandangan
hidup
·
http://satriowisnu.blog.com/2010/04/18/manusia-pandangan
hidup-tugas-ibd/


0 komentar:
Posting Komentar